Perancis abad 18
1.1 AWAL ABAD XVIII DAN KENAPA DISEBUT SEBAGAI ABAD PENCERAHAN
(untuk foto lengkap, komen di kolom bawah ya. akan saya emailkan)
Awal abad XVIII dimulai dengan banyaknya para ilmuwan yang muncul dan mulai berkembangnya peralatan sekitar mereka seperti mulai ditemukannya beragam benda seperti baterai, piano, sepeda, air berkarbonasi ( coca-cola dll ) , zona waktu 24 jam dll.
Banyak sekali penemuan mereka yang bisa bertahan hingga sekarang seperti baterai,sepeda, piano, air berkarbonasi dan apalagi zona waktu 24 jam.
Tidak hanya itu, revolusi besar-besaran banyak terjadi pada abad ini, seperti revolusi perancis dan revolusi industri. Kemunculan Napoleon Bonaparte juga pada akhir abad ini dan awal abad 19 di Perancis. Abad XVIII disebut sebagai abad pencerahan karena banyaknya para sastrawan dan ilmuwan yang sangat berperan penting dalam abad ini,seperti Alessandro Volta dalam penemuannya yang berupa baterai.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KEJADIAN PENTING YANG TERJADI PADA ABAD 18 DI PERANCIS
1. Traité de Paris 1763( berisi tentang perancis kehilangan sebagian dari wilayah kekuasaannya dan hanya menyisakan beberapa bagian wilayah dan perjanjian paling menyedihkan bagi perancis )
2. Perjanjian Versailles ( salah satu isi perjanjian Versailles adalah Perancis mendapaatkan kembali Guyane, Tobago, St.Pierre,Niquelon,Senegal,P.Bourbon dan L’île-de France )
3. Perang 7 Tahun ( 1756-1763, yang dipicu oleh persaingan antara Britania Raya (sedang bersatu dengan Hanover) dengan Wangsa Bourbon(di Perancis dan Spanyol), dan antara Hohenzollerns (di Prusia) dengan Habsburg (Kekaisaran Romawi Suci dan Austria) Perang ini diakhiri oleh Traktat Paris dan Hubertusburg pada tahun 1763 )
4. Revolusi Perancis yang dilatarbelakangi oleh permasalahan ekonomi dan politik,akibat dari revolusi perancis adalah negara perancis tidak menjadi negara yang monarki,
5. Napolèon Bonaparte ,yang lahir pada akhir abad 18 dan muncul pada awal abad 19 ketika Perancis mendesakkan pengaruhnya yang kuat kepada gelanggang politik Belanda dan “prajurit kecil” Napoleon Bonaparte menjadi pemimpin Perancis.
B. KENAPA ABAD 18 DISEBUT SEBAGAI ABAD PENCERAHAN
Ada beberapa alasan kenapa abad 18 disebut sebagai abad pencerahan, antara lain :
1. Zaman Pencerahan bermula antara 1650-1800an adalah era di mana semangat kepercayaan dan pegangan manusia adalah kritikal, berdasarkan sebab akibat dan kaidah – kaidah yang scientifique
2. Zaman ini berusaha untuk melahirkan masyarakat yang lebih terbuka, bertolak ukur pada kejadian yang akan terjadi kedepannya, menekankan kebahagiaan individu dan berdasarkan undang-undang dan perlembagaan.
3. Pada zaman ini pula lahir berbagai ilmuwan yang sangat terkenal hingga sekaranag seperti Alessandro Volta ( penemu sel volta,1778 ), piano ( Johann Schmidt, Austria,1780 ), Zona Waktu 24 jam (Sir Sandford Fleming,1870 ).
4. Banyak melahirkan pemikir politik, ekonomi dan hukum seperti Montesquieu, Rousseau, Jeremy Bentham, sedangkan di bidang filsafat Fontenelle, Voltaire, Diderot dan Marmontel.
C. KEHIDUPAN SOSIAL
Kehidupan sosial masyarakat Perancis pada abad pencerahan ini adalah dengan bertani dan berdagang, sistem barterisasi masih berjalan tetapi “ bank uang “ sudah muncul meskipun baru sedikit sekali yang bermunculan pada saat itu.
Adanya ekspansi ekonomi,berkurangnya kelaparan dan kemiskinan, menghilangnya epidemi, kemajuan dari kehidupan abad pencerahan ini mulai terlihat pesat dan para bangsawan eropa pun tidak tinggal lagi di perancis kecuali mereka yang sudah bangkrut
Di desa,kesenangan hidup menjadi bagus dan halus dan menjadi model bagi bangsawan Eropa. Kenikmatan pribadi terlihat pada hotel-hotel yang dibangun untuk pribadi itu sendiri.
Dalam kehidupan intelektuil, muncul berbagai humanisme baru yang dianggap humanisme yang sebenarnya oleh masyarakat, seperti skeptisisme dan rasionalisme. Semua telah disiapkan bagi humanisme yang baru yang ingin lebih dekat dengan realitas dan dengan ilmu-ilmu lain seperti physique, sosial, geographie, sejarah dan prakteknya. Perkembangan di kalangan intelektuil tentunya mengakibatkan kemajuan di bidang pendidikan bukan saja bagi para bourgeois, tapi juga bagi rakyat yang hidup di kota maupun desa. Kehidupan intelektuil berkembang pesat dan berubah menjadi semakin maju karena orang asing yang masuk dan mengadakan penelitian di perancis dan orang-orang perancis yang mengadakan perjalanan ke luar negeri.
Sedangkan dalam kehidupan keagamaan, abad ke-18 merupakan periode paling gawat dalam sejarah agama katholik di perancis. Mulai akhir abad ke-18 orang mulai mengkritik gereja, sehingga ketidakepercayaan terhadap agama hampir merata dalam masyarakat yang tidak begitu faham dan yang telah dirasuki ide filsafat.
D. KEBUDAYAAN SENI DAN ARSITEKTUR
Rococo, begitulah nama dari sebuah arsitektur yang berkembang pada abad 18,perkembangan seni dan arsitektur pada abad pencerahan ini sebenarnya dimulai setelah “ Barok Akhir “ , yang berkembang ketika seniman Barok mulai meninggalkan gaya simetris dan mulai memulai dengan gaya yang lebih simetris dengan penambahan bunga dan tanaman,ornamen – ornamen kecil, hiasan patung kecil, cermin penuh ornamen dan permadani penuh melengkapi arsitektur,dinding yang penuh dengan cat warna.
Kata Rokoko berasal dari kombinasai kata Perancis rocaille, yang artinya batu, dan coquilles, yang artinya kerang, karena keterikatan dengan benda-benda asal motif dekorasinya .
Gaya ini banyak digantikan oleh gaya Neoklasik. Tahun 1835 pada Dictionary of the French Academy menuliskan kata Rococo "biasanya meliputi jenis ornamen, gaya dan desain yang berhubungan dengan pemerintahan Louis XV dan awal dari Louis XVI". Termasuk didalamnya, segala jenis karya seni yang dibuat pada pertengahan abad 18 di Perancis.
Karena gaya Rokoko suka dan fokus pada seni dekoratif, beberapa kritikus menggunakan istilah ini untuk merendahkan secara tidak langsung bahwa gaya itu sembrono atau sekedar modis saja. Ketika istilah ini mulai digunakan di Inggris pada sekitar tahun 1836, ini menjadi ucapan sehari-hari yang artinya "ketinggalan zaman". Faktanya, gaya ini menerima kritik keras, dan bagi sebagian orang sebagi sesuatu yang dangkal dan berselera rendah,dan sejak pertengahan abad 19, istilah ini diterima oleh para ahli sejarah seni. Meskipun demikian masih ada debat masalah pengaruh sejarah dari seni ini secara umum, Rokoko kini dikenal luas sebagai periode besar dalam perkembangan seni Eropa.
E. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN SAINS
Perkembangan Teknologi dan Sains ( IPTEK ) pada abad 18 sebenarnya dipengaruhi oleh munculnya berbagai penemuan dan ilmuwan yang muncul. Penemuan mereka tidak hanya berpengaruh pada abad dimana mereka dilahirkan tetapi pada abad- abad setelahnya.
Contoh penemuan yang hingga sekarang masih dipakai dalam kehidupan sehari-hari adalah baterai yang ditemukan oleh Alessandro Volta di tahun 1778, sepeda , piano , air berkarbonasi ( coca – cola , sprite ) dan yang paling penting adalah penemuan zona waktu 24 jam yang digunakan hingga sekarang.
F. PERKEMBANGAN MUSIK
Gaya Galante adalah persamaan dari Rokoko dalam sejarah musik, berada di antara Barok dan Klasik, dan sulit untuk mengartikan kata-katanya. Gaya musik rokoko sendiri dikembangkan dari musik Barok, khususnya di Perancis. Bisa dijelaskan sebagai musik yang intim dengan penghalusan berbagai bentuk aransemennya. Contohnya meliputi karya Jean Philippe Rameau dan Louis-Claude Daquin
Musik yang benar-benar instrumental dibuat oleh 2 orang ahli terompet,yaitu Michel Blavet dan Bodin de Boismortier.
30 tahun terakhir abad 18 di Paris,musik perancis didominasi oleh musik italia dan jerman sehingga dapat dikatakan musik perancis menghilang sampai saat dimana opera musik mulai berkembang. Pencetus musik ini antara lain Philidor,Monsigny dan Liégeois Gétry.
G. CONTOH DESAIN ARSITEKTUR BERGAYA ROCOCO
REVOLUSI PERANCIS
Revolusi Perancis (Révolution française; 1789–1799) adalah suatu periode sosial radikal dan pergolakan politikdi Perancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Perancis, dan lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan. Monarki absolut yang telah memerintah Perancis selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun. Rakyat Perancis mengalami transformasi sosial politik yang epik; feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak diruntuhkan oleh kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di perdesaan. Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat, dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru; Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya di seluruh Eropa, yang berupaya mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad berikutnya.
Di tengah-tengah krisis keuangan yang melanda Perancis, Louis XVI naik tahta pada tahun 1774. Pemerintahan Louis XVI yang tidak kompeten semakin menambah kebencian rakyat terhadap monarki. Didorong oleh sedang berkembangnya ide Pencerahan dan sentimen radikal, Revolusi Perancis pun dimulai pada tahun 1789 dengan diadakannya pertemuan Etats-Généraux pada bulan Mei. Tahun-tahun pertama Revolusi Perancis diawali dengan diproklamirkannya Sumpah Lapangan Tenis pada bulan Juni oleh Etats Ketiga, diikuti dengan serangan terhadap Bastille pada bulan Juli, Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara pada bulan Agustus, dan mars kaum wanita di Versailles yang memaksa istana kerajaan pindah kembali ke Paris pada bulan Oktober. Beberapa tahun kedepannya, Revolusi Perancis didominasi oleh perjuangan kaum liberal dan sayap kiri pendukung monarki yang berupaya menggagalkan reformasi.
Sebuah negara republik didirikan pada bulan Desember 1792 dan Raja Louis XVI dieksekusi setahun kemudian. Perang Revolusi Perancis dimulai pada tahun 1792 dan berakhir dengan kemenangan Perancis secara spektakuler. Perancis berhasil menaklukkan Semenanjung Italia, Negara-Negara Rendah, dan sebagian besar wilayah di sebelah barat Rhine – prestasi terbesar Perancis selama berabad-abad.
Secara internal, sentimen radikal Revolusi berpuncak pada naiknya kekuasaan Maximilien Robespierre, Jacobin, dan kediktatoran virtual oleh Komite Keamanan Publik selama Pemerintahan Teror dari tahun 1793 hingga 1794. Selama periode ini, antara 16.000 hingga 40.000 rakyat Perancis tewas. Setelah jatuhnya Jacobin dan pengeksekusian Robespierre, Direktori mengambil alih kendali negara pada 1795 hingga 1799, lalu ia digantikan oleh Konsulat di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte pada tahun 1799.
Revolusi Perancis telah menimbulkan dampak yang mendalam terhadap perkembangan sejarah Modern. Pertumbuhan republik dan demokrasi liberal, menyebarnya sekularisme, perkembangan ideologi modern, dan penemuan gagasan perang total adalah beberapa warisan Revolusi Perancis. Peristiwa berikutnya yang juga terkait dengan Revolusi ini adalah Perang Napoleon, dua peristiwa restorasi monarki terpisah; Restorasi Bourbon dan Monarki Juli, serta dua revolusi lainnya pada tahun 1834 dan 1848 yang melahirkan Perancis modern
PENYEBAB TERJADINYA REVOLUSI PERANCIS
Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa sebab utama Revolusi Perancis adalah ketidakpuasan terhadap Ancien Régime. Lebih khusus, para sejarawan juga menekankan adanya konflik kelas dari perspektif Marxis; hal yang umum terjadi pada akhir abad ke-19. Perekonomian yang tidak sehat, panen yang buruk, kenaikan harga pangan, dan sistem transportasi yang tidak memadai adalah hal-hal yang memicu kebencian rakyat terhadap pemerintah. Rentetan peristiwa yang mengarah ke revolusi dipicu oleh kebangkrutan pemerintah karena sistem pajak yang buruk dan utang yang besar akibat keterlibatan Perancis dalam berbagai perang besar. Upaya Perancis dalam menantang Inggris – kekuatan militer utama di dunia pada saat itu – dalam Perang Tujuh Tahun berakhir dengan bencana, menyebabkan hilangnya jajahan Perancis di Amerika Utara dan hancurnya Angkatan Laut Perancis. Tentara Perancis dibangun kembali dan kemudian berhasil menang dalam Perang Revolusi Amerika, namun perang ini sangat mahal dan secara khusus tidak menghasilkan keuntungan yang nyata bagi Perancis. Sistem keuangan Perancis terpuruk dan kerajaan tidak mampu menangani utang negara yang besar. Karena dihadapkan pada krisis keuangan ini, raja lalu memanggil Majelis Bangsawan pada tahun 1787, pertama kalinya selama lebih dari satu abad.
Sementara itu, keluarga kerajaan hidup nyaman di Versailles dan terkesan acuh tak acuh terhadap krisis yang semakin meningkat. Meskipun secara teori pemerintahan Raja Louis XVI berbentuk monarki absolut, namun dalam prakteknya ia sering ragu-ragu dan akan mundur jika menghadapi oposisi yang kuat. Louis XVI memang berusaha mengurangi pengeluaran pemerintah, namun lawannya di parlement berhasil menggagalkan upayanya untuk memberlakukan reformasi yang lebih luas. Penentang kebijakan Louis semakin banyak dan berupaya menjatuhkan kerajaan dengan berbagai cara, misalnya dengan membagikan pamflet yang melaporkan informasi palsu dan dilebih-lebihkan untuk mengkritik pemerintah dan aparatnya, yang semakin memperkuat opini publik dalam melawan monarki.
Faktor lainnya yang dianggap sebagai penyebab Revolusi Perancis adalah kebencian terhadap pemerintah, yang muncul seiring dengan berkembangnya cita-cita Pencerahan. Ini termasuk kebencian terhadap absolutisme kerajaan; kebencian oleh masyarakat petani, buruh, dan kaum borjuis terhadap hak-hak istimewa yang dimiliki oleh kaum bangsawan; kebencian terhadap Gereja Katolik atas pengaruhnya dalam kebijakan publik dan di lembaga-lembaga negara; keinginan untuk memperjuangkan kebebasan beragama; kebencian para pendeta perdesaan miskin terhadap uskup aristokrat; keinginan untuk mewujudkan kesetaraan sosial, politik, ekonomi, serta (khususnya saat Revolusi berlangsung) republikanisme; kebencian terhadap Ratu Marie Antoinette, yang dituduh sebagai seorang pemboros dan mata-mata Austria; serta kemarahan terhadap Raja karena memecat bendahara keuangan Jacques Necker, salah satu orang yang dianggap sebagai wakil rakyat di kerajaan.
Pra Revolusi : Krisis Keuangan
Karikatur Etats Ketiga yang membawa Etats Pertama (pendeta) dan Etats Kedua (bangsawan) di punggungnya.
Louis XVI naik takhta menjadi raja Perancis di tengah-tengah krisis keuangan; negara sudah hampir bangkrut dan pengeluaran negara melebihi pendapatan. Krisis ini terutama sekali disebabkan oleh keterlibatan Perancis dalam Perang Tujuh Tahun dan Perang Revolusi Amerika. Pada bulan Mei 1776, menteri keuangan Turgot dipecat setelah ia gagal melaksanakan reformasi keuangan. Setahun kemudian, seorang warga asing bernama Jacques Necker ditunjuk menjadi Bendahara Keuangan. Necker tidak bisa menjadi menteri keuangan resmi karena ia adalah seorang Protestan.
Necker menyadari bahwa sistem pajak di Perancis sangat regresif; masyarakat kelas bawah dikenakan pajak yang lebih besar, sementara kaum bangsawan dan pendeta diberikan banyak pengecualian. Necker beranggapan bahwa pembebasan pajak untuk kaum bangsawan dan pendeta harus dikurangi, dan mengusulkan untuk meminjam lebih banyak uang agar permasalahan keuangan negara bisa teratasi. Necker menerbitkan sebuah laporan untuk mendukung anggapannya ini, yang menunjukkan bahwa defisit negara menembus angka 36 juta livre. Necker juga mengusulkan pembatasan kekuasaan parlement.
Usulan Necker ini tidak diterima dengan baik oleh para menteri Raja, dan Necker, yang berharap bisa memperkuat posisinya, berpendapat bahwa ia harus diangkat sebagai menteri, namun Raja menolaknya. Necker dipecat dan Charles Alexandre de Calonne ditunjuk menjadi bendahara yang baru.Calonne dengan cepat menyadari situasi keuangan negara yang sedang kritis dan mengusulkan pembentukan kode pajak yang baru.
Usulan Calonne ini termasuk penarikan pajak bumi yang konsisten, yang juga dipungut pada kaum bangsawan dan pendeta. Karena ditentang oleh parlement, Calonne mengadakan pertemuan dengan Majelis Bangsawan, berharap mendapat dukungan. Namun bukannya mendukung rencana Calonne, Majelis malah melemahkan posisi Calonne dengan mengkritiknya. Sebagai tanggapan, untuk pertama kalinya sejak 1614, Raja memanggil Etats-Généraux pada bulan Mei 1789. Pemanggilan ini sekaligus menjadi pertanda bahwa monarki Bourbon sedang dalam keadaan lemah dan tunduk pada tuntutan rakyatnya.
Etats-Généraux 1789 ( DPR )
Etats-Généraux (wakil rakyat dari berbagai golongan) terbagi menjadi tiga golongan (etats): pendeta (Etats Pertama), kaum bangsawan (Etats Kedua), dan sisanya adalah rakyat biasa Perancis (Etats Ketiga).Dalam pertemuan terakhir Etats-Généraux pada tahun 1614, masing-masing golongan memiliki satu suara, dan dua diantaranya bisa membatalkan suara ketiga. Parlement Paris khawatir bahwa pemerintah akan berusaha meng-gerrymander majelis untuk mencurangi hasil. Oleh sebab itu, mereka memutuskan bahwa susunan Etats harus sama dengan susunan 1614.[13] Aturan Etats 1614 ini berbeda dengan praktek pada majelis daerah; di daerah-daerah, masing-masing anggota memiliki satu suara dan Etats Ketiga memiliki anggota dua kali lipat lebih banyak dari Etats lainnya. Sebagai contoh, di Dauphiné, majelis provinsi sepakat untuk menggandakan jumlah anggota Etats Ketiga, mengadakan pemilihan keanggotaan, dan memperbolehkan satu suara per anggota, bukannya satu suara per etats.
Sebelum pertemuan berlangsung, "Komite Tiga Puluh", sebuah kelompok liberal yang beranggotakan warga Paris, mulai melakukan agitasi terhadap suara etats. Kelompok ini sebagian besarnya terdiri dari orang-orang kaya, dan mereka berpendapat bahwa sistem suara di Etats-Généraux harus sama dengan sistem yang berlaku di Dauphiné. Kelompok ini beranggapan bahwa sistem lama sudah tidak efisien karena "rakyatlah yang berdaulat". Necker lalu menggelar Sidang Kedua Majelis, yang menghasilkan keputusan penolakan terhadap usulan perwakilan ganda, dengan suara 111-333.
Pemilihan diadakan pada musim semi 1789; persyaratan hak pilih untuk Etats Ketiga adalah harus laki-laki kelahiran Perancis atau naturalisasi, setidaknya berusia 25 tahun, berkediaman di lokasi tempat pemilihan berlangsung, dan membayar pajak.
Pour être électeur du tiers état, il faut avoir 25 ans, être français ou naturalisé, être domicilié au lieu de vote et compris au rôle des impositions.
Pemilihan menghasilkan 1.201 delegasi, yang terdiri dari: 291 bangsawan, 300 pendeta, dan 610 anggota Etats Ketiga. Untuk mengarahkan delegasi, "Dokumen Keluhan" (Cahiers de Doléances) disusun sebagai pengarah yang memuat daftar permasalahan yang dihadapi negara.
Pamflet yang disebarkan oleh para bangsawan dan pendeta liberal semakin merebak setelah dicabutnya penyensoran pers. Abbé Sieyès, seorang teoretikus dan pendeta Katolik, berpendapat mengenai betapa pentingnya keberadaan Etats Ketiga dalam pamflet Qu'est-ce que le tiers état? (bahasa Inggris: "What is the Third Estate?"), yang diterbitkan pada bulan Januari 1789. Ia menegaskan: "Apa itu Etats Ketiga? Segalanya. Apa posisinya dalam tatanan politik? Tidak ada. Ia ingin menjadi apa? Sesuatu.
Etats-Généraux kembali menggelar pertemuan di Grands Salles des Menus-Plaisirs, Versailles, pada tanggal 5 Mei 1789. Pertemuan ini dibuka dengan pidato tiga jam oleh Necker. Etats Ketiga menuntut agar verifikasi deputi secara kredensial harus dilakukan bersama oleh semua deputi, bukannya masing-masing etats memverifikasi anggotanya secara internal; negosiasi dengan etats lainnya gagal mewujudkan hal ini. Golongan rakyat jelata bersitegang dengan kaum pendeta yang menjawab kalau mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk memutuskan. Necker pada akhirnya memutuskan bahwa setiap etats harus memverifikasi anggotanya masing-masing dan "Raja bertindak sebagai penengah" Namun, negosiasi dengan dua etats lainnya tetap tidak berhasil.
Majelis Nasional (1789)
Pada 10 Juni 1789, Abbé Sieyès pindah keanggotaan menjadi Etats Ketiga, dan sekarang mengikuti pertemuan sebagai Communes (Rakyat Biasa). Ia mengajak dua etats lainnya untuk ikut serta, namun ajakannya ini tidak diindahkan.Etats Ketiga yang sekarang menjadi lebih radikal mendeklarasikan diri sebagai Majelis Nasional, majelis yang bukan berasal dari etats, namun dari golongan "Rakyat". Mereka mengajak yang lainnya untuk bergabung, namun menegaskan bahwa "dengan atau tanpa bantuan, mereka tetap akan mengatasi permasalahan bangsa.
Dalam upayanya untuk tetap mengontrol dan mencegah Majelis mengadakan pertemuan, Louis XVI memerintahkan penutupan Salle des États, tempat Majelis biasanya mengadakan pertemuan. Di saat yang bersamaan, cuaca tidak memungkinkan Majelis untuk menggelar pertemuan di luar ruangan, sehingga Majelis pada akhirnya memindahkan pertemuan mereka ke sebuah lapangan tenis dalam ruangan. Di tempat ini, mereka mengambil Sumpah Lapangan Tenis pada 20 Juni 1789, yang menyatakan bahwa Majelis tidak akan berpisah hingga mereka bisa memberikan sebuah konstitusi bagi Perancis.
Mayoritas perwakilan pendeta segera bergabung dengan Majelis, serta 47 orang dari kaum bangsawan. Pada tanggal 27 Juni, pihak kerajaan secara terang-terangan telah menunjukkan penentangannya terhadap Majelis, dan sejumlah besar pasukan militer mulai diterjunkan ke seantero Paris dan Versailles. Dukungan bagi Majelis juga mengalir dari warga Paris dan dari kota-kota lainnya di Perancis. Pada tanggal 9 Juli, majelis itu disusun kembali menjadi Majelis Konstituante Nasional.
Majelis Konstituante Nasional (1789–1791)
Penyerbuan Bastille
Sementara itu, Necker semakin dimusuhi oleh keluarga kerajaan Perancis karena dianggap memanipulasi opini publik secara terang-terangan. Ratu Marie Antoinette, adik Raja Comte d'Artois, dan anggota konservatif lainnya dari dewan privy mendesak Raja agar memecat Necker sebagai penasihat keuangan. Pada 11 Juli 1789, setelah Necker menerbitkan laporan keuangan pemerintah kepada publik, Raja memecatnya, dan segera merestrukturisasi kementerian keuangan tidak lama berselang.
Kebanyakan warga Paris menganggap bahwa tindakan Louis secara tak langsung ditujukan pada Majelis dan segera memulai pemberontakan terbuka setelah mereka mendengar kabar tersebut pada keesokan harinya. Mereka juga khawatir terhadap banyaknya tentara – kebanyakan tentara asing – yang ditugaskan untuk menutup Majelis Konstituante Nasional. Dalam sebuah pertemuan di Versailles, Majelis bersidang secara non-stop untuk berjaga-jaga jika nanti tempat pertemuan digusur secara tiba-tiba. Paris dengan cepat dipenuhi oleh berbagai kerusuhan, kekacauan, dan penjarahan. Massa juga mendapat dukungan dari beberapa Garda Perancis yang dipersenjatai dan dilatih sebagai tentara.
Revolusi dan Gereja
Dalam karikatur ini, biarawan dan biarawati menikmati kebebasan mereka setelah dekrit 16 Februari 1790.
Revolusi ini menyebabkan perubahan besar kekuasaan, dari yang sebelumnya dikuasai oleh Gereja Katolik Roma menjadi dikuasai negara. Berdasarkan Ancien Régime, Gereja menjadi pemilik tanah terbesar di Perancis, memiliki sekitar 10% tanah kerajaan. Gereja dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada pemerintah, dan juga berhak menerima dîme (zakat) 10% dari pajak penghasilan, seringkali dikumpulkan dalam bentuk bahan pangan, dan hanya sebagian kecil dari dîme tersebut yang diberikan kepada masyarakat miskin. Kekuatan dan kekayaan Gereja yang begitu besar telah menimbulkan kebencian dari beberapa kelompok. Kelompok minoritas penganut Protestan yang tinggal di Perancis seperti Huguenots, menginginkan rezim yang anti-Katolik dan berhasrat untuk membalas dendam kepada para pendeta yang melakukan diskriminasi terhadap mereka. Pemikir Pencerahan seperti Voltaire membantu mengobarkan semangat anti-Katolik dengan merendahkan Gereja Katolik dan mendestabilisasi monarki Perancis. Menurut sejarawan John McManners, "Pada abad kedelapan belas, takhta Perancis dan altar berhubungan erat; dan hubungan ini runtuh..."
Kebencian terhadap Gereja melemah kekuatannya saat dibukanya pertemuan Etats-Généraux pada bulan Mei 1789. Gereja memiliki sekitar 130.000 anggota pendeta dalam Etats Pertama. Ketika Majelis Nasional didirikan pada bulan Juni 1789 oleh Etats Ketiga, para pendeta memilih untuk bergabung dengan Majelis. Majelis Nasional mulai memberlakukan reformasi sosial dan ekonomi. Undang-undang baru pada tanggal 4 Juli 1789 menghapuskan kewenangan gereja untuk memungut zakat. Dalam upayanya untuk mengatasi krisis keuangan, pada tanggal 2 November 1789, Majelis memutuskan bahwa properti Gereja menjadi "milik negara". Properti ini digunakan untuk mendukung peredaran mata uang baru, assignats. Dengan demikian, mulai saat itu keberlangsungan Gereja juga menjadi tanggungjawab negara, termasuk membayar para pendeta untuk merawat orang-orang miskin, orang sakit, dan yatim piatu. Pada bulan Desember, Majelis mulai menjual tanah-tanah milik Gereja kepada penawar tertinggi untuk meningkatkan pendapatan negara. Hal ini efektif menaikkan nilai assignats sebesar 25% dalam waktu dua tahun. Pada musim gugur 1789, undang-undang baru yang menghapuskan sumpah monastik dirumuskan, dan pada 13 Februari 1790, semua ordo keagamaan dibubarkan. Para biarawan dan biarawati disarankan untuk kembali ke kehidupan pribadi mereka, dan beberapa di antaranya akhirnya menikah.
Konstitusi Sipil Pendeta, yang disahkan pada tanggal 12 Juli 1790, menetapkan bahwa pendeta adalah pekerja negara. Keputusan ini membentuk sistem pemilihan pastor dan uskup paroki, serta menetapkan upah bagi para pendeta. Sebagian besar pendeta Katolik keberatan dengan sistem pemilihan ini karena hal itu berarti bahwa mereka secara efektif menolak otoritas Paus di Roma atas Gereja Perancis. Akhirnya, pada bulan November 1790, Majelis Nasional mulai mewajibkan "sumpah setia pada Konstitusi Sipil" bagi semua pendeta Katolik. Hal ini menyebabkan timbulnya perpecahan antara pendeta yang mengambil sumpah dengan pendeta yang tetap setia kepada Paus. Secara keseluruhan, 24% dari semua pendeta di Perancis telah mengambil sumpah. Pendeta yang menolak bersumpah setia pada konstitusi akan "dibuang, dideportasi secara paksa, atau dieksekusi dengan tuduhan pengkhianat." Paus Pius VI tidak pernah mengakui Konstitusi Sipil Pendeta ini, yang berakibat pada semakin terisolasinya Gereja Perancis. Selama Pemerintahan Teror, upaya besar-besaran de-Kristianisasi di Perancis terjadi, termasuk memenjarakan dan membantai para pendeta, serta pengrusakan Gereja dan gambar-gambar relijius di seluruh Perancis. Upaya untuk menggantikan kedudukan Gereja Katolik dilakukan, misalnya dengan mengganti festival agama dengan festival sipil. Pembentukan Kultus Alasan adalah langkah terakhir dalam de-Kristenisasi radikal di Perancis. Peristiwa ini menyebabkan munculnya kekecewaan dan penentangan terhadap Revolusi di seluruh Perancis. Warga seringkali menolak de-Kristenisasi dengan cara menyerang agen revolusioner dan menyembunyikan pendeta yang sedang diburu. Pada akhirnya, Robespierre dan Komite Keamanan Publik dipaksa untuk menentang kampanye dengan menggantikan Kultus Alasan dengan deisme, walaupun masih non-Kristen. Konkordat 1801 antara Napoleon dan Gereja mengakhiri periode de-Kristenisasi dan mulai membentuk aturan-aturan yang mengatur mengenai hubungan antara Gereja Katolik dengan negara, yang tetap berlaku hingga tahun 1905, kemudian diubah oleh Republik Ketiga dengan memisahkan urusan Gereja dengan urusan negara pada tanggal 11 Desember 1905. Penganiayaan terhadap pendeta menyebabkan munculnya gerakan-gerakan kontra-revolusi, yang berpuncak dalam Pemberontakan Vendee
SISTEM PEMERINTAHAN
A. PEMERINTAHAN MONARKI KONSTITUSIONAL (1789-1793)
14 Juli 1789 merupakan langkah awal yang diambil oleh pemerintah revolusi, yaitu dengan dibentuk Pasukan Keamana Nasional yang dipimpin oleh Jenderal Lafayette. Selanjutnya dibentuk Majelis Konstituante untuk menghapus hak-hak istimewa raja, bangsawan, dan pimpinan gereja. Semboyan rakyat segera dikumandangkan oleh J.J Rousseau yaitu liberte, egalite dan fraternite. Dewan perancang undang-undang terdiri atas Partai Feullant dan Partai Jacobin. Partai Feullant bersifat pro terhadap raja yang absolut, sedangkan partai Jacobin menghendaki Perancis berbentuk republik. Mereka beranggotakan kaum gerondin dan montagne dibawah pimpinan Maximilien de Robespierre, Marat dan danton. Pada masa ini juga raja Louis XVI dijatuhi hukuman pancung (guillotine) pada 22 Januari 1793 pada saat itu bentuk pemerintahan Perancis adalah republik.
B. PEMERINTAHAN TEROR ATAU KONVENSI NASIONAL (1793-1794)
Pada masa ini, pemegang kekuasaan pemerintahan bersikap keras, tegas dan radikal demi penyelamatan negara. Pemerintahan teror dipimpin oleh Robespierre dari kelompok montagne. Dibawah pemerintahannya setiap orang yang kontra terhadap revolusi akan dianggap sebagai musuh prancis. Akibatnya dalam waktu satu tahun terdapat 2.500 orang prancis dieksekusi, termasuk permaisuri Louis XVI, Marie Antoinette. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak. Akhirnya terjadi perebutan kekuasaan oleh kaum gerondin. Robespierre ditangkap dan dieksekusi dengan cara dipancung bersama dengan 20 orang pengikutnya. Pada oktober 1975 terbentuklah pemerintahan baru yang lebih moderat yang disebut pemerintahan direktori.
C. PEMERINTAHAN DIREKTORI ATAU DIREKTORAT (1795-1799)
Pada masa direktori, pemerintahan dipimpin oleh lima orang warga negara terbaik yang disebut direktur. Masing-masing direktur memiliki kewenangan dalam mengatur masalah ekonomi, politik sosial, pertahanan-keamanan dan keagamaan. Direktori dipilih oleh parlemen. Pemerintah direktori ini tidak bersifat demokratis sebab hak pilih hanya diberikan kepada pria dewasa yang membayar pajak. Dengan demikian wanita dan penduduk miskin tidak memiliki suara dan tidak dapat berpartisipasi. Pada masa pemerintahan direktori, rakyat tidak mempercayai pemerintah karena sering terjadinya tindak korupsi yang dilakukan oleh para petinngi. Akan tetapi, dalam bidang militer prancis mengalami kemajuan yang pesat, hal ini berkat kehebatan Napoleon Bonaparte. Ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah berhasil dimanfaatkan Napoleon untuk merebut pemerintahan pada tahun 1799.
D. PEMERINTAHAN KONSULAT (1799-1804)
Pemerintahan konsulat dibagi dalam 3 bagian, yaitu Napoleon sebagai konsulat satu, Cambaseres sebagai konsulat 2 dan Leblun sebagai konsulat 3. Akan tetapi dalam perjalanan sejarah selanjutnya Napoleon berhasil memerintah sendiri. Dibawah pimpinan konsulat Napoleon, Perancis berhasil mencapai puncak kejayaannya . Tidak hanya dalam bidang militer akan tetapi juga dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Pada tahun 1803 Napoleon terpilih sebagai kaisar perancis atas dasar voting dalam sidang legislatif. Penobatannya dilaksanakan pada 2 Desember 1804 oleh Paus VII.
E. MASA PEMERINTAHAN KAISAR (1804-1815)
Napoleon sebagai kaisar dimulai dengan pemerintahannya yang bersifat absolut. Hal ini jelas tidak disukai oleh rakyat perancis. Napoleon memiliki keinginan untuk mengembalikan kekuasaan raja secara turun temurun dan menguasai seluruh wilayah Eropa. Ia mengangkat saudara-saudaranya menjadi kepala negara terhadap wilayah yang berhasil di taklukannya. Oleh karena itu, pemerintah Napoleon disebut juga pemerintahan Nepotisme.
Pemerintahan kekaisaran berakhir setelah Napoleon di tangkap pada tahun 1814 setelah kalah oleh negara-negara koalisi dan di buang di pulau Elba. Karena kecerdikannya, Napoleon berhasil melarikan diri dan segera memimpin kembali pasukan perancis untuk melawan tentara koalisi selama seratus hari. Namun, karena kekuatan militer yang tak seimbang , akhirnya Napoleon mengalami kekalahan dalam pertempuran di Waterloo pada tahun 1915. Dia di buang ke pulau terpencil di pasifik bagian selatan, St. Helena, sampai akhirnya meninggal dunia pada 1821.
F. PEMERINTAHAN REAKSIONER
Rakyat merasa tidak senang terhadap sistem pemerintahan absolut yang di lakukan Napoleon. Oleh karena itu, rakyat kembali memberi peluang kepada keturunan raja Louis XVIII untuk kembali menjadi raja di Perancis (1815-1842). Raja yang berkuasa pada sistem pemerintahan reaksioner selain raja Louis XVIII, adalah raja Charles X (1824-1840) dan raja Louis Philippe (1830-1848).
SISTEM EKONOMI DAN KEPENDUDUKAN
A. Ekonomi dan Masyarakat
Suatu kenyataan, jika dalam demografi, Perancis sebelum tahun 1789 mengalami kemajuan yang sangat pesat tapi tidak demikian jika dilihat dari bidang ekonomi yang akibatnya kita rasakan di kota maupun di desa.
Mula – mula jumlah penduduk tetap sampai pada 1740 yaitu sekitar 19 – 20 juta orang, tapi sejak saat itu jumlah naik sampai lebih dari 25 juta pada saat revolusi Perancis meletus, karena sebenarnya pertambahan kelahiran sudah berkurang dari 5 menjadi 4 anak perkeluarga dan orang mulai melihat hasil perkembangan dari sistem Malthus. Tapi pertambahan penduduk itu disebabkan karena kematian khususnya balita berkurang, yang tadinya 33% sekarang angka kematian balita hanya 23%.
Banyak percobaan dilakukan yang didasari doktrin dari para ahli ilmu alam dan diatas segala-galanya adalah perkembangan itu sendiri, dipupuk karena adanya permintaan dari kota – kota. Hasilnya terlihat dari adanya kemajuan dalam bidang ekonomi di dalam negeri juga karena adanya banyak pasar – pasar. Hal ini dapat terjadi karena ditunjang perkambangan di bidang alat komunikasi dan IPTEK.
Pertambahan pendapatan hasil bumi menjadikan kapital/modal dari hasil bumi itu sendiri. Mereka menjadi kaya, pindah ke kota menjadi bourgeois, yang kemudian membangun suatu aktifitas baru khususnya dalam bidang bangunan dan tekstil. Dimana – mana juga terlihat adanya suatu minat baru untuk mengembangkan bidang teknik , yang kemudian dapat kita baca dalam Éncyclopédie. Tapi terlebih lagi dalam bidang industri kita bisa melihat adanya perdagangan yang lebih besar. Dan dalam bidang ekonomi, khususny perkembangan itu terlihat karena adanya lalu lintas maritim yang masih sering sekali digunakan dengan koloninya di Antilles. Disana, banyak perkebuan yang memakai budak-budak dari Afrika dan koloni itu menjadi kaya sehingga membantu memperkaya para importir Perancis yang bergerak dalam komoditi kopi, teh, cokelat, gula dan tembakau yang dikirim serta diperdagangkan di Bordeaux dan Nantes.
B. Hancurnya Ekonomi
Perkembangan ekonomi yang terpaksa dikekang oleh adanya suatu krisis ekonomi antara tahun 1775 – 1790 mau tidak mau merupakan salah satu sebab dari Revolusi Perancis. Krisis ini menghancurkan sektor pertanian yang selama 15 tahun selalu gagal panen. Petanilah yang mendapatkan akibat yang sangat banyak dari kegagalan ini. Tengkulak yang mendapat hasil kurang pun tidak begitu tamak lagi untuk bermewah-mewah dan perdagangan menjadi pelan dalam laju ekonomi sehingga mengakibatkan banyaknya pengangguran dimana-mana. Harga tinggi dan gajiyang rendah menjadikan tahun-tahun itu sangat suram dan tragis yang berakibat pada tahun 1788-1789 dan terjadilah pemberontakan pada saat yang sama.
C. Hak – Hak Istimewa yang Melebihi Batas
Luasnya pergerakan dari timbangan keadaan ekonomi : kekayaan yang naik dari 1720 – 1775 dan kemunduran dari 1775 – 1790 terlihat dalam evolusi masyarakat. Abad XVIII sebenarnya abad dimana tekanan ekonomi menimbulkan archaisme (mengidentifikasikan diri kekuasaan) sehingga keadaan masyarakat pun menjadi tradisional lagi, yaitu dengan membuat banyak peraturan dan adanya “ ordres “ ( tingkatan kelas dalam masyarakat)
Beberapa tingkatan kelas ( ordres ) :
a. Clergé, dibagi lagi menjadi Haute Clergé dan Bas Clergé .
b. Noblesse, dibagi lagi menjadi Haute Noblesse, Petite Noblesse, Noblesse de Robe dan Conférant la Noblesse.
c. Bourgeoisie, terdiri atas Officiers non Nobles, Avocats, Financiers marchands dan Petite Bourgeois.
d. Paysan, terbagi dalam Les Paysans Propriétaires ( Laboureurs , petani pemilik tanah ) Artisans, Journaliers ( pekerja harian ), dan Manouvriers ( buruh kasar ).
Kekhususan dari setiap ordre diberikan oleh para “ privileges” yang terpilih dan yaang disetujui pada saat kelahiran. Lagipula seorang bangsawan tidak boleh menyalahi /menyimpang dari kebangsawanannya serta harus mempunyai pekerjaan sesuai kedudukannya. Kedudukan seseorang pun dapat dilihat dari mentalitas dan pakaiannya. Jadi, kita temukan suatu overlaping antara yang satu dengan yang lain, akan tetapi hal itu kemudian dipersempit pada abad XVIII dan pambagian kasta menjadi lebih keras daripada abad – abad sebelumnya.
Fenomena dari pengerasan hak – hak istimewa dalam suatu masyarakat yang keadaan ekonominya mulai membaik, dimana para petani, artisan dan bourgeois telah mengenal suatu penaikan jabatan dan golongan sebelum terpukul krisis itu, menjadi betul-betul beban bagi mereka setelah diberitahukan kembali hukum –hukum feodal, undang- undang kebangsawanan,pajak- pajak yang dibuat raja. Hal- hal diatas tersebut mempersulit keadaan dan menjadikan situasi menjadi sulit untuk dikendalikan.
BAB III
KESIMPULAN
Jadi, kesimpulannya adalah bahwa pada abad XVIII banyak sekali ilmuwan dunia yang bermunculan mulai dari Alessandro Volta hingga penemu zona waktu 24 jam oleh Sir Stanford Flaming di tahun 1870 dan bukan hanya ilmuwan saja yang bermunculan melainkan adanya revolusi besar-besaran atau Revolusi Perancis yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap negara Perancis untuk saat ini, dan pada abad ini pula negara Perancis memeluk bentuk pemerintahan berbentuk Republik ketika Louis XVI mendapat hukuman pada 22 Januari 1793.
DAFTAR PUSTAKA
Koseri, Wandansari, 2013. Diktat Hijau, Jatinangor : Universitas Padjadjaran
Wikipedia , 2013, Abad XVIII di Perancis dan Eropa
Wikipedia , 2013, Penemuan besar pada Abad XVIII di Eropa
Wikipedia , 2013, Sistem Pemerintahan Abad XVIII


1 comments: