Melamun kesepian

12:31:00 am Unknown 1 Comments

Hai selamat malam... lama tak jumpa
Malam ini tidurku tertunda. Bukan karena tugas, tapi banyak sekali hal yang mondar mandir dalam pikiran.
Aku memikirkan sudah seberapa jauh aku melangkah? Apa saja yang telah aku relakan untuk aku lupakan? Sudah banyak kah kesedihan yang aku tinggal kan? Seberapa banyak kebahagiaan yang pantas aku dapatkan?
Begitu banyak sekali pertanyaan yang semakin larut, maka semakin kesedihanku ikut -larut.
Sebuah masalah pastilah memiliki undakan yang semakin tinggi maka semakin menyita waktu untuk dipikirkan. Bagiku mungkin sedikit absurd, maksudku... pikiranku sedikit membelok ke arah yang lain. Semakin tinggi undakan, maka semakin jauh lah masalah itu dari sisi logis untuk diselesaikan. Bagiku masalah pastilah bermula dari diri sendiri, yang kemudian akan memengaruhi cara pandang kita terhadap orang-orang di sekitar. Contoh mudah adalah, ketika kita sedang iti terhadap adik kita yang telah dibelikan gadget terbaru. Kita akan merasa hal itu tidak adil karena kita menginginkan hal yang sama meski tak serupa, kemudian muncullah rasa tidak suka terhadap perlakuan orang tua yang mulai kita anggap sebagai tindakan yang berlebihan. Maka ya... masalahku berawal dari keluarga. Seperti layaknya keluarga lainnya, aku memiliki keluarga yang lengkap, nenek, ayah, ibu, paman, kemenakan, sepupu dan sebagainya. Namun itu dulu... sebelum pola pikirku berubah, dan tanpa aku sadari satu persatu dari mereka telah pergi menjauh dengan caranya masing-masing. Berawal dari kepergian nenek yang aku anggap risih karena selalu memerintah untuk makan, kemudian ayah...  pria tersabar dan paling pendiam yang pernah kutemui, dia tak pernah memarahi atau membentaku. Yaa... aku merindukan mereka.
Hal ini membuatku merasa kehilangan rasa kasih sayang, begitu egois, manja namun itu murni dan tentu saja akan terjadi kepada siapapun, ketika orang yang dia kasihi berpulang.
Sedikitnya aku mencari perhatian di lingkungan hidup selanjutnya, yaitu teman sepermainan. Aku sadar benar bahwa tidak ada yang namanya teman setia ataupun teman sejati, yang ada hanya teman yang dapat dipercaya.
Lantas karena keegoisanku kala itu, aku menganggap teman adalah keluarga. Orang terdekat yang menyayangiku dengan tulus setelah ibu ku.
Aku percayakan rahasia dan kebahagiaan ku kepada mereka. Dimana ada mereka, maka aku bahagia. Aku menganggap mereka menyayangiku sama seperti aku menyayangi mereka, tulus, murni, tanpa cela, loyal... namun kadang kepergian harus dihadapi.
Kekecewaan kembali merangkulku, saat aku berusaha membuat simpul mengenai teman hidup dan teman sepermainan... mereka tak dapat bersatu. Mereka tak sama... enggan untuk bekerja sama atau malah aku yang tak dapat menyatukan kedua kutub tersebut.
Oh ayolah... aku butuh keduanya, bukan... ketiganya. Keluarga, teman sepermainan, teman hidup...
Jika ditengok kembali, sudah banyak sekali fase kehilangan yang aku lewati. Keluarga, teman, pasangan....
Bukannya aku tak puas dengan kasih sayang ibu. Namun terkadang ada hal yang tak mampu dilukiskan ketika ibu tidak berada didekatmu. Bukan pula manja, namun... aku dan ibuku adalah tipe individu yang tidak pandai menunjukan kasih sayang melalui ucapan dan perlakuan manis layaknya ibu dan anak. Maka jika ingin bermanja, aku akan bersama teman hidupku... tertawa, berpelukan, mensupport dengan cinta, memuja satu sama lain. Dan membutuhkan teman sepermainan untuk memacu semangat di dunia nyata, memberi kritik serta saran jika aku berlaku tidak cerdas, memberikan kasih sayang layaknya saudara. Aku butuh ketiganya.... butuh....
Namun sekarang saatnya aku menghadapi kepedihan kembali, kenyataan bahwa aku merasakan lagi kehilangan rasa kasih sayang dari teman dan ibu...
Maka untuk saat ini, aku hanya bisa menggenggam lengan teman hidupku, beruntung aku dipertemukan kembali dengan orang yang aku anggap sepadan, tidak berlebihan maupun kurang, dia rumahku untuk saat ini dan semoga ia mengerti bahwa aku dan hidupku tidak telalu mudah untuk dia anggap enteng... biarkan dia membahagiakanku dengan caranya, aku hanya ingim menerima dan membalas semampuku agar aku mampu terus bertahan melanjutkan tiap tarikan udara yang masih bisa kuhirup...


with love,
Kesepian

1 comments: